Tuhan yang Universal

Saat melihat matahari bersinar, bumi yang menghidupi, bulan yang memancarkan cahaya, saat itu hati jadi merenung, oleh siapa dan untuk siapa semua itu diciptakan. Tentu kita mengenal yang kita sebut adalah Tuhan yang menciptakan semua itu. Diciptakan untuk suatu kehidupan maupun keseimbangan jagad raya.

Saya pikir kita bisa menyetujui bahwa Tuhan mengatur dan menciptkan apa yang kita lihat maupun tidak bisa kita lihat dengan mata. Mungkin karena teralu kecil dari penangkapan mata, mungkin karena terlalu jauh dari penangkapan mata, bahkan jika di tempat gelapun mata kita tidak bisa menangkapnya. Artinya bahwa manusia tidak mengetahui semua yang ada di jagad raya ini. Banyak yang tidak bisa lihat ataupun tidak kita ketahui maknanya. Tapi keagungan sang perancang telah membuat semua itu berjalan sesuai dengan alur dan takdir jalannya. Planet mempunyai orbit, bintang berkumpul menjadi galaksi, ataupun udara yang banyak ditemukan di atmosfir bumi. Semua saling mengisi dan terikat.

Kita mungkin menyetujui bahwa Tuan atas semua ini satu, jika banyak mungkinkah Tuan akan berselisih antar Tuan sehingga terjadi berjalan sendiri sesuai kehendak Tuannya. Jika demikian cepat rusaklah alam semesta ini karena masing masing mengikuti kehendak dari pencipta paling tingginya. Apalagi mungkinkah terjadi perang antar pencipta tertinggi semesta.

Di belahan bumi ini, melalui agama kita diperkenalkan penyadaran akan adanya Tuhan sang pencipta. Masing-masing mempunyai cara untuk menceritakan adanya awal mula dari terjadinya bumi dan seisinya. Namun semua tetap menuju kepada Dia yaitu Tuhan yang menciptakan semua ini.

Jika kita menyutujui Tuhan adalah satu, maka bisakah setiap agama mengakui “ini lho Tuhanku?” dan bertanya kepada agama lain “mana Tuhanmu?” atau lebih jelek ngomong “Tuhanmu adalah salah!”. Yang salah sih bukan Tuhannya, tapi yang ngomong itu? Karena dia tidak sadar pikiran terbatasnya bisa mengatakan Tuhan agama lain salah. Padahal tujuan dari agama-agama adalah sama, yaitu mengenal Tuhan. Tapi karena egoisme pemahaman suatu agama, bisa jadi menganggap yang lain adalah salah.

Agama yang satu ngomong, “surga itu di sana, syaratnya ke sana… bla..bla..bla”, yang lain ngomong “surga itu letaknya di sini, caranya masuk..bla..bla..bla”. Masing-masing boleh ngomong begitu, hanya satu pertanyaannya. Surga itu sebenarnya ada berapa? Kalau memang setiap agama punya satu surga, bagus.. berarti nanti manusia akan terpisah-pisah berdasar RT agama. Berarti di Surga nanti ada alamat buat ngirim surat ke orang “ini..” RT agama “01” nomor “sekian”. Namun jika surga itu satu kawasan, nah berarti tujuannya juga sama bukan.

Agama Kehilangan Jati Diri

Setiap agama dibentuk untuk mengembalikan kesadaran akan Tuhan. Seharusnya juga bisa lebih memanusiakan manusia. Pandangan sempit beragama adalah bahwa tidak ada keselamatan di luar agama dia. Apakah hal tersebut tidak mengatakan bahwa dia sebenarnya lupa kemana tujuan agamanya. Tujuannya adalah membawa dia memahami dimana Tuhan. Jika Tuhan adalah satu, kenapa agama justru mengkotak-kotakkan manusia berdasar keyakinannya. Jika engkau ikut aku “OK” jika tidak ikut “no way”. Agama kehilangan jati diri, yang seharusnya mengenalkan Tuhan, akhirnya berhenti pada mengenalkan agama. Sifat kemanusiaan jika berbeda agama justru dipandang sebelah mata, sebagai orang asing yang mungkin dianggap surganya lain.

Agama dimodifikasi pula sebagai kendaraan politik, kendaraan kekuasaan, kendaraan mencari masa, kendaraan untuk mencari kehormatan. Jika seperti itu, sama saja berkata, “Tuhan, minggirlah dahulu, biarkan tujuan dan keinginan saya tercapai, Engkau bantu aku ya.” Waduh.. mestinya dia malu, lha harusnya dia yang mengabdi Tuhan sebagai penciptanya, eh.. malah Tuhan dijadikan pembantu. Sadar atau tidak silahkan renungkan pada diri masing-masing, tidak perlu menyalahkan orang lain.

Banyak skat yang akhirnya bisa kita temui karena hukum yang diatasnamakan agama. Semisal, tidak boleh pacaran beda agama, tidak boleh menikah beda agama, agama yang lain dianggap tidak bersih atau berdosa. Waduh.. itu sih hukum manusia, bukan hukum Tuhan. Mana ada Tuhan mengatur sampai ke situ. Lihat kitab suci masing-masing, apakah ada Tuhan yang mengatur seperti tadi. Berarti sadar atau tidak, justru agama yang tidak memanusiakan manusia, membelah manusia menjadi suatu diskriminasi, tidak bisa menghormati manusia sebagai makluk ciptaan Tuhan seperti tujuan utama pemahaman diciptakannya agama. Coba deh tanyakan kepada para nenek moyang pembawa agama, maksudnya ayah atau ibu atau kakek dan seterusnya dari utusan Tuhan yang menyatakan suatu agama. Coba tanyakan pada mereka, agama mereka apa? Tentu agama mereka bukanlah agama yang dibawa utusan tersebut. Kenapa, ya karena agamanya belum lahir, belum ada. Tapi bukankah Tuhan telah ada dan telah mereka percayai sebelumnya. Nah jika bisa memahami itu, apakah masih mau mengatakan orang yang tidak seagama dengannya tidak akan masuk surga, nanti dulu, lha yang berjasa melahirkan si pembawa agama itu masuk surga tidak.

Orang beragama harus dewasa

Untuk mencapai pada tingkat pengenalan Tuhan yang lebih baik, manusia harus lebih dewasa dalam beragama. Dewasa berarti bisa mempertimbangkan, mempertanggung jawabkan, mengambil sikap, dan berpikir luas. Beragama bukan sekeder berhitung dagang dengan Tuhan, maksudnya jika saya melakukan ini, maka Tuhan akan membalas ini, jika saya memberikan ini, maka Tuhan akan mencatat sebagai piutang sebesar ini. Orang yang paling bisa dianggap tinggi nilai keimanannya adalah diukur dari tingkat kepasrahannya kepada kehendak Tuhan, bukan kepada kehendak dirinya. Sadar atau tidak, kadang kita mengeset Tuhan adalah seperti kehendak kita. Kita melampaui batas persepsi yang semestinya bukan hak kita. Nah itu yang berbahaya, karena hal tersebut bisa menghukum manusia lain sepertinya atas nama Tuhan, padahal bukan, melainkan atas nama egoisnya.

Tahapan perkembangan keimanan mungkin adalah seperti ini.

Mukjizat: orang terkagum-kagum dengan mukjizat yang ditumbulkan sesuatu, mengharapkan banyak kebahagiaan dan kejayaan dari situ, menganggap dirinya adalah lebih tinggi daripada yang lain.

Masa Percobaan: Nah ini dia, seseorang akan mengalami ujian. Sedikit demi sedikit mukjizat tidak dikeluarkan untuk dirinya, doa-doanya mulai dirasa tidak dikabulkan. Banyak hal dirasa berjalan di luar keinginan dan kendalinya. Akhirnya dirinya merasa mempunyai beban terhadap banyak hal.

Masa Kejatuhan: Begitu banyak dera dalam batinya, kepercayaannya mulai hilang, akhirnya dia jatuh, lunglai, merasa tidak berdaya. Jika imannya memang kecil sampai di situ, mungkin dia akan segera lari dari Tuhan, pergi ke hal-hal duniawi. Pergi kepada hal-hal yang bisa dimengerti oleh mata dan pikirannya, padahal belum tentu hal itu membuatnya menjadi lebih baik.

Masa Kepasrahan: Nah, jika memang orang tersebut bisa memahami dan belajar dari masa percobaan dan kejatuhan, maka dia akan menemukan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Yang memang harus terjadi adalah kehendak Tuhan.

Sheila on 7 mau meluncurkan album baru

Semalem nonton Empat Mata-nya mas Tukul, kebetulan yang jadi bintang tamu Sheila On Seven ada Erros, Duta, Brian, Adam. Wah.. jadi semangat nonton nih, pingin denger kelanjutan Sheila on 7 yang pernah dikabarkan mau bubaran. Wee.. ternyata malah mau bikin album baru, sempat juga sih lagunya dinyanyikan secara akustik, waduh enak banget.. cuma sayang, belum tau nih judulnya. Tapi yang jelas mendengar lagu-lagu Sheila memang membuatku melambung. Ya sama lagunya, juga jadi teringat kota tercinta Jogja.

Pas wawancana dengan Tukul memang bahasa-bahasa yang digunakan dialeg oleh anggota Sheila bener bener terasa merakyat, Indonesia dialeg jowo… lugu tur lucu… hehehe.. Semoga albumnya cepat meluncur deh.

Kalau mau kunjungi friendster sheila : http://profiles.friendster.com/sheilaon7

Kalau mau liat web sheila: http://sheilaon7.com/507/

Inflasi Zimbabwe 2008


Di Zimbabwe inflasi semakin menjadi-jadi, pada tahun 2006 inflasi mencapai 1.200%, 2007 mencapai 66.212%, dan yang lebih ngeri lagi inflasi di tahun 2008 mencapai 2.200.000%. Suatu tingkat inflasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tinggi banget. Uang recehan kecil di sana bisa mencapai 500.000.000 dollar Zimbabwe yang dikeluarkan oleh Pemerintah Zimbabwe pada bulan Mei 2008. Uang yang sebesar itu hanya dapat digunakan untuk sekali makan seadanya. Coba bayangkan habis berapa milyard kalau mau pesta di restoran atau cafe. Itu baru memikirkan hal-hal yang keseharian, bagaimana dengan perusahaan dan pemerintah… wah ngitungnya jumlah uang gimana ya? Masa pake rumus matematika pangkat-pangkat nolnya…

Semoga hal ini tidak terjadi di Indonesia. Makanya pemerintah Indonesia harus mengantisipasi hal tersebut ke depannya. Benar benar memberdayakan Bank Indonesia ataupun perangkat lainnya untuk mengantisipasi inflasi. Tapi beberapa indikasi yang terus-terusan terjadi di Indonesia yang sebenarnya melajukan inflasi yang tidak dapat dibendung. Hal tersebut mungkin perlu diwaspadai:

  • Kenaikan anggaran pemerintah maupun perusahaan yang diidentifikasikan hampir dinaikkan 10% per tahun. Kenaikan ini memang digunakan untuk mengantisipasi harga yang naik. Yang signifikan adalah jika pemerintah menaikan 10% setiap tahun maka berdampak pada barometer harga di Indonesia.
  • Kenaikan BBM yang terjadi mungkin tahunan akan memicu kenaikan harga lainnya lebih dari nominal kenaikan harga BBM itu.
  • Kenaikan rutin tiap hari Raya, terutama Idul Fitri (lebaran), kenaikan harga permanen bisa mencapai sekitar 10% s.d. 20%.
  • Kenaikan gaji pegawai negeri juga terhitung sebagai pembekakan inflasi (bukannya tidak setuju dengan kenaikan gaji pegawai negeri, tetapi hanya melihat dampaknya, lihat saja masih diumumkan harga sudah mulai naik.)

Hal tadi kira-kira menjadi penyebab inflasi rutin tahunan. Belum penyebab inflasi yang tak terduga mengikuti dampak perekonomian dunia atuapun perekonomian dalam negeri. Kenaikan kenaikan tersebut sebenarnya tidak signifikan terhadap perubahan kehidupan masyarakat, bagiamana tidak mendapatnya gaji atau upah naik sedikit, tapi belanja barang naiknya lebih tinggi lagi.

USUL saja buat pemerintah, apa sebaiknya dibentuk Team Khusus pengendali Inflasi? untuk menjaga agar harga-harga tidak naik secara rutin, untuk awalnya bisa saja dengan kampanye tidak menaikkan harga pada hari Raya Idul Fitri besok. Bukankah kenaikan kenaikan itu tidak ada manfaatnya jika semua juga ikutan naik apalagi yang tidak bisa disesuikan lagi setelah hari raya… Keenakan naik, tidak mau turun-turun.

Mencintai Seseorang

Sulit untuk bisa membahasakan cinta kepada orang yang dicintainya. Satu orang dan lainnya mempunyai keunikan cara mencintai. Hal itu sebenarnya terbentuk sangat terkait dengan kepribadian seseorang. Yang mana kepribadian itu terbentuk sejak dari ia kecil. Dari cinta keluarga maupun dari lingkungannya. Semakin beragam budaya dan sosial maka makin beragam cara menyampaikan cinta.

Sertifikasi dan tunjangan dosen

<<– Gambar dari link tetangga
Seminar tentang sertifikasi
Guru dan dosen

Sebanyak 12.000 Dosen Segera Disertifikasi Departemen Pendidikan Nasional akan segera melakukan sertifikasi dosen sebagai syarat memperoleh tunjangan profesi bagi pengajar di perguruan tinggi. kuota pada tahun pertama ini 12.000 dosen. Sertifikasi akan dimulai Juli 2008. Jumlah dosen tetap di Indonesia sekitar 120.000 orang, dari perguruan tinggi negeri dan swasta.

Kira-kira ini beneran atau cuma iming-iming saja ya. Soale apakah Anggaran Negara kita mampu mencukupi itu secara terus menurus. Jika tidak, maka hanya terjadi tunjangan beberapa kali saja kemudian bubar. Masih ingat kan kasus ketika Indonesia meningkatkan besar-besar gaji pegawai negeri. Ternyata dampaknya tidak terlalu signifikan untuk perbaikin ekonomi di Indonesia sekarang. Harga-harga tetap mahal. Lihat saja uang Rp 50.000,- sekarang dapat apa. Dibelanjakan satu hari bisa saja habis.

Di beberapa daerah kasus pemberian tunjangan kepada guru-guru bantu sudah mulai mandeg. Ada yang sudah 3 bulan tidak mendapat kiriman gaji. Padahal dari sekolahan tempat ia bekerja sudah tidak digaji lagi. Kerja tiga bulan belum dapet apa-apa. Padahal dapur harus tetap isi. Kepastian tunjangan akan turun pun belum diterima. Terkatung-katung.

Yah, itulah nasib bangsa Indonesia. Senang membikin sensasi, kemudian lari. Maklum karena pejabatnya sudah ganti. Perencanaan maju mundur seiring pergantian posisi kepemimpinan. Waduh kayak negara uji coba ya??

Takutnya juga masalah tunjangan dosen ini hanya sementara saja. Turun beberapa kali trus macet. Sebab tujuan utama pemberian tunjangan belum diketahui. Ada apa dibalik itu? Ingin meningkatkan inflasi atau menyenangkan hati pegawai.

Kita tidak perlu iri dengan tunjangan-tunjangan itu lho ya. Sebab penulis juga tidak kebagian jatah kok. Hahaha. Namanya karyawan swasta mana ada yang mau memperhatikan. Gaji dibawah satu juga ya harus terima saja. Ya nggak, mau gimana lagi. Tinggal nunggu janji, siapa tahu nanti masuk surga. Hahaha.

Kelulusan siswa di tahun 2008

Berdebar-debar menjelang Ujian Akhir Nasional, tidak bisa dipungkiri. Mulai dari siswa sendiri, orang tua, kakak, adik, atau bahkan teman. Sebab tahun 2008 ini standar kriteria lulusan ditingkatkan dari tahun sebelumnya. Standar nilai kelulusan untuk setiap jenjang mulai SMA, MA, SMK, SMP hingga SD semua sama, yaitu rata-rata minimal 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25 (ini kriteria pertama). Khusus untuk siswa SMK nilai mata pelajaran kompetensi keahlian minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung nilai rata-rata UN SMK tersebut.

Kita ikut berdoa deh, semoga semua berjalan lancar. Lepas dari beratnya beban menempuh ujian tersebut, kita berharap agar kemampuan SDM kita semakin baik. Agar bisa bersaing baik secara daerah, nasional, maupun internasional.

Teknologi baru Internet CashBlasterPro, bisa mendapatkan penghasilan tinggi dari program Afiliasi



Teknologi Internet terus berkembang. Berbagai macam usaha untuk membuat penghasil di Internetpun makin digemari dari berbagai netter. Sebuah penawaran baru dari cashblasterpro yang sedang dikembangkan dan akan diluncurkan per 1 Juli 2008 menawarkan program afiliasi. Penawarannya berupa kontrak untuk memberikan saham atas web tersebut apabila telah tergabung dalam official cashblasterpro.

Tak ada salahnya Anda meluangkan waktu sedikit untuk membaca penawaran kontrak dari cashbalsterpro. Penawaran saham yang pada Anda oleh cashblaster mencapai $1.000.000,- Bagaimana cara kerjanya? Menurut cashblaster dalam 24 sampai 36 bulan ke depan akan membangun keanggotaan untuk teknologi baru cashblaster. Berjuta-juta pengguna internet yang bergabung diharapkan akan menggunakan teknologi internet baru dari cashblaster yang ia namai WEB 2.0 INTERNET UPGRADE Technologies to the world

Keterangan lebih lanjut silahkan Anda membacanya di: http://www.cashblasterpro.com

BBM lagi, lagi-lagi naik, konversi gas.

kenaikan bbm drastisSudah tentu kalau BBM naik akan menimbulkan dampak yang menghebohkan Indonesia. Bagaimana tidak? BBM naik dampaknya akan makin banyak kenaikan yang membututinya. Kalau pemerintah hanya menghitung secara matematis, yang dinaikkan itu cuma BBM ya ngitungnya pengiritian duit yang dikeluarkan oleh negara untuk membayar subsidi tentu berkurang. Walah ya jelas tho. Kalau BBM tidak disubsidi, nggak ada pengeluaran Anggaran untuk membiayai subsidi. Tapi saya jamin pemerintah tidak bisa menghitung dampak inflasi yang ditimbulkan oleh kenaikan BBM. Multiple effect, ataupun effect dominonya. Apa pemerintah bisa menebak? Tidak bukan. Berapa kuadrat dari per seratus rupiah kenaikan harga, yach.. itu tugasnya para ekonom untuk menghitung.

Tapi kenaikan BBM saat ini (terutama minyak tanah), dibarengi dengan konversi minyak tanah ke gas. Uih.. main politik atau menguatkan ekonomi bangsa sih? Jangan lihat gampangnya dulu dong melaksanakan konversi. Aparat pemerintahan kita banyak yang belum siap mental. Masih banyak korupsinya. Coba teliti ke daerah-daerah. Program yang saya dengar sih pembagian tabung gas dan perlengkapannya itu dibagikan gratis. Siapa bilang? Sekali lagi tanya ke aparat-aparat Anda sampai ke daerah. Jika perlu dicek sampai ke konsumen terakhir. Di daerah, masa tabung gas itu disuruh ngangsur beberapa kali. Minimal harga Rp 75.000,-. Ini sungguh-sungguh terjadi. Gratisnya dimana?

Rakyat kecil sebenarnya pada berontak, tapi tidak punya daya. Segala macam masukan dari media dan wawancara, mana pernah juga didengar oleh pemerintah. Kalau sudah dipatok gitu, ya akan dijalankan. Lebih enak mengorbankan masyarakat daripada membayar biaya rapat koordinasi ulang. Wah.. padahal uang rapatnya kan juga dari masyarakat, hasil pajak tuh.

Kenaikan minyak tanah yang diperkirakan menjadi Rp 7.000,- per liter sungguh kenaikan hebat. Karena lebih dari 100% dari semula. Yah.. paling rakyat kecil cuma tinggal menerima keputusan sambil menangis. Mau berbuat apa lagi tho? Kurangi aja jatah makan, selesai. Gak bergizi juga nggak papa kok. Biar jadi bodho-bodho asal tetap hidup. Ya nggak??

Kenaikan Perlu Dikaji Ulang

Apakah memang sudah tidak ada cara lain, entah itu alasan untuk keseimbangan anggaran, kenaikan harga minyak dunia, atau bahkan alasan konversi. Alasanna memang macem-macem sih, kalau yang satu gagal, akan beralih ke alasan yang lain. Biar ramai membahasnya. Kalau dari segi Anggaran, para ekonom sudah banyak yang bicara, antara lain efisiensi pengeluaran anggaran, penjadwalan kembali hutang, dsb. Kalau masalah kenaikan harga minyak dunia ini sudah dijawab dengan dua opsi yang menguatkan kenaikan harga yaitu, pembatasan peredaran minyak tanah, dan kenaikan harga minyak tanah (kok nggak pilih salah satu?). Kalau alasan konversi ke gas. Apa tidak keburu-buru. Distribusi gasnya aja belum dipikirkan secara matang, tadi sudah dijelaskan yang mestinya gratis juga masih harus membayar. Belum lagi isi ulangnya. Masa punya kompor gas ngisi ulangnya harus berjalan sejauh 14 km. Apalagi harga gasnya juga lebih mahal.

DAYA BELI KITA MASIH RENDAH

Daya beli masyarakat Indonesia masih rendah. Pendapatan perkapita juga lagi kembang kempis. Namun kenaikan harga-harga sudah pasti terjadi di setiap tahunna, bahkan dalam satu tahun bisa berkali-kali. Namun dari itu, dampak ke depan atas kenaikan harga-harga belum bisa diprediksi. Pengembangan produksi masyarakat tidak banyak bertambah. Dari berbagai faktor masyarakat kita menilai masih mahal, baik dari segi pendidikan, komunikasi, biaya hidup, sembako, dll. Apa sih yang murah di negara kita yang subur makmur ini?

Apa kita mau meniru perancis? Dimana harga satu cangkir kopi kursnya mencapai Rp 50.000,- Biaya kereta api sepanjang 1 jam perjalanan Rp 400.000,-. Tapi meskipun begitu di sana kok ya adem ayem. Bahkan dunia mengakui di sana pendapatan perkapita tinggi dunia. Silahkan saja di Indonesia mau demikian, harga kopi satu cangkir Rp seratus ribu juga tidak apa-apa. Asalkan masyarakatnya dengan senang hati bisa membeli secangkir kopi itu.

Yang penting kan masyarakatnya. Bagaimana pemerintah mengusahakan kenaikan perekonomian warga dan menaikkan pendapatan perkapita warga. Kalau saat ini masih repot banget deh dari masyarakat kita. Jangan yang dipakai patokan adalah pegawai para pejabat dan pegawai negeri yang gajinya kemarin sudah dinaikkan berprosen-prosen, misal rata-rata sekarang Rp 2.500.000,- per bulan. Sumber gaji itu kan dari hutang negara, bukan kenaikan produksi nasional. Trus yang swasta, kita perlu ingat untuk mendapat gaji Rp 1.000.000,- per bulan itu masih sulit. Swasta banyak yang kembang kempis membiayai pengeluaran rutin. Kalau harus imbang ya harus menaikkan harga. Eh.. dampaknya tentu ke masyarakat petani, yang tidak punya gaji tetap.

Ini bukan sekedar ngomong ngalor ngidul kayak acara goro-goro di wayang kulit. Tapi ini adalah gambaran kehidupan yang terjadi di Indonesia. Siapa yang bisa menjadi ratu adil, yang bisa bertindak bijak dengan segala kelemahan di negeri ini.

Pola Pendidikan Mengejar Pengerjaan Soal

Siswa-Siswa sedang belajarSiswa asyik belajar

Menyimak tulisan di Media Indonesia yang menyatakan bahwa Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) belum menjawab permasalahan pengangguran di Indonesia. Pasalnya, kebijakan pendidikan selama ini, hanya diarahkan pada output oriented.

“Untuk itu, sistem pendidikan nasional yang ada saat ini, harus direformasi menjadi job oriented,” ungkap Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno kepada pers seusai meraih gelar doktoral pada program manajemen pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, Selasa (4/3).

Ini seperti yang mungkin kita pikirkan bersama, kecenderungan pendidikan di sekolah-sekolah biasanya adalah untuk mengejar nilai yang bagus waktu ujian. Apalagi untuk ujian akhir. Getol-getol sekolahan mengadakan latihan mengerjakan soal. Jika paradigmanya adalah sekolah untuk mengerjakan soal, nah inilah yang membuat inovasi dan creativitas daya pikir murid menjadi terbatas dan terbebani.

Mungkin dia anak pinter di sekolah, dengan nilai ujian tinggi, tapi dari itu, bisa juga ia tidak tahu bagaimana mengimplementasikan kepadaiannya tersebut ke kasus yang sebenarnya.

Paradigma pendidikan di Indonesia ke depan ini akan diubah oleh Diknas menjadi porsi terbalik. Jika kemarin 70:30 untuk SMA dan Kejuruan, maka besok akan diubah menjadi 30:70. Sekolah menengah akan diperbanyak penguasaan ketrampilan untuk memasuki kebutuhan pasar kerja.

Jika dulu sekolah menengah kejuruan adalah dipandang menjadi nomor dua, maka besok akan banyak dikejar oleh lulusan SLTP.

Kembali lagi ke soal sistem pengajaran. Pola-pola pengajaran dengan mendasarkan pada pengerjaan soal ujian mungkin sangat membatasi visi pendidikan ke jangkauan lebih jauh. Dampaknya, kurang banyak Inovasi dan penemuan di Indonesia ini. Research juga menjadi malas, karena siswa tidak dididik untuk meneliti sejak awal. Mestinya perlu juga diajarkan bagaimana cara membuat karya ilmiah yang benar. Hal yang sepele, misal membuat foot note, footer, index, dsb. Jangankan hal yang lebih rumit, yang sering saya temui adalah seorang lulusan sekolah masih bingung apa yang harus ditulis di surat lamaran, inovasi apa yang bisa dikerjakan dalam membuat surat lamaran agar bisa merepresentasikan dirinya lebih baik.

Semoga pendidikan di Indonesia makin maju, berkembang, dan berkualitas. Sehingga bisa mengejar ketertinggalan dari negara lain sesama ASIA misalnya. Mendirikan sekolah bukan sekedar berdagang siswa atau murid. Mencari masukan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan finansial. Tapi lebih dari itu, cita-cita besar bangsa harus lebih diinspirasikan untuk setiap sekolah. Membuat manusia Indonesia lebih maju daripada sekarang memang sulit, tapi harus ada yang memulai.

Hal ini tentu tidak akan terlepas dari peran besar Dinas Pendidikan, Kementrian Pendidikan, dan semua aparat maupun pemerintahan, tak lepas juga dari masyarakatnya itu sendiri. Pemerintah harus bisa membentuk sistem yang paling pas dan cocok untuk kondisi saat ini, tetapi juga harus menuju ke satu goal jangka tertentu bidang kemajuannya. Jika pemerintah yang menangani sistem belum bangun dari lelap, maka daya dari masyarakat pelaksana akan tersendat-sendat bahkan gagal. Sudah gaji dinaikkan, kalau tidak ada kemajuan, ya sama saja dengan makan gaji buta demi kepentingan pribadi.

Budaya Antri dan Saling Menghormati perlu ditingkatkan

budayakan antriApakah kaitannya antara antri dan menghormati? Tentu saja ada. Jika kita bisa menghormati orang lain, tentu bisa bersabar hati untuk mengantri di belakang orang yang datang lebih dahulu. Budaya antri secara pribadi bisa ditanamkan kepada diri sendiri bahwa saya mesti menghormati orang lain, mendahalukan orang lain yang lebih dahulu datang, atau mendahulukan orang lain yang sudah masuk jalur (dalam lalu lintas misalnya).

Secara pribadi-pribadi hal ini akan terkumpul dalam satu kelompok masyarakat, dan kelompok masyarakat akan membentuk suatu bangsa dan negara. Imbasnya, bukan hanya berhenti pada menanamkan budaya antri dan menghormati pada diri sendiri, tapi lebih jauh dari itu. Ketika seseorang berkuasa membentuk sistem, misalnya manajemen ataupun pimpinan nasional, maka akan memikirkan pula bagaimana membuat sistem yang bisa mengakomodasi budaya saling menghormati dan antri.

Berbagai hal yang menggelitik pemikiran saya ini adalah ketika saya melihat berita bahwa ada 11 orang yang meninggal saat menonton pertunjukkan musik underground di Bandung, sebelumnya juga ada ketika pertunjukkan musik Ungu Band. Sistem tidak mendukung adanya jalan masuk dan kapasitas ruang, jalan keluar masuk di jadikan satu. Sudah budaya antri bagi personel pribadi yang datang kurang tinggi, belum lagi manajemen pertunjukkan tidak menghormati sepenuhnya orang yang datang, tidak disediakan tempat yang layak untuk keluar masuk.

Masalah lain yang timbul misalnya, ketika ada pembagian sembako bagi keluarga miskin, bisa saja menimbulkan masalah besar sampai ada yang meninggal, karena saling berebut kesempatan dan melupakan yang tua renta, yang tidak bisa punya tenaga dan kekuatan seperti yang lebih muda. Si tua bisa pingsan karena desakan.

Masalah pembagian bantuan untuk korban bencana pun kadang juga menimbulkan keirian, kok dia dapat lebih banyak?? Kok saya tidak dapat seperti itu?? Padahal sebenarnya sudah perlu bersyukur ia bisa selamat dari bencana. Kekisruan pada masa pembagian bantuan bisa saja terjadi pada saat pembagian maupun setelahnya. Yang bertugas membagipun kadang tidak bisa adil, hanya keluarganya yang dipentingkan, yang berhak mendapat malah tidak mendapat. Sehingga terjadi konflik. Ini benar-benar terjadi misalnya di kasus pembagian dana bantuan korban bencana di Jogjakarta, yang dalam tanda kutip bukan di tempat pusat bencana. Malah agak jauh, ada bantuan 15 jt, 4 jt, 2 jt, 1 jt. dst untuk pemugaran rumah. Tapi saya melihat sendiri, bahwa keluarga si manajer bantuan mendapat yang besar ketimbang orang yang memang mengalami kerusakan, bisa jadi yang mengalami kerusakan justru tidak mendapat apa-apa. Ironis bukan?

Nah, inilah masalah sosial yang perlu ditingkatkan lagi kesadarannya. Menghormati orang lain dan mengantri sesuai jatahnya dan haknya mestinya menjadi kesadaran bagi setiap orang. Coba dipikir, berapa banyak kendaraan yang main serobot di jalan meskipun jalur sudah ditempati orang lain. Ketika ia jatuh yang disalahkan orang lain yang sudah pada jalurnya, itu juga ironis.

Mulailah membudayakan antri dan menghormati orang lain. Jangan takut untuk mundur dahulu jika itu memang hak orang lain.