Kritik Sinetron Indonesia

Kritik Sinetron Indonesia

Saat ini dunia tontonan televesi tidak bisa lepas dari adanya suguhan “Sinetron”. Sinema Elektronik yang lebih dikenal dengan sinetron ini telah menjadi makanan pokok sehari-hari bagi dunia pertelevisian. Bukan seperti lauk atau bahkan sebagai bumbu yang sekedar melengkapi sajian. Tapi rupanya sudah menjadi garapan utama bagi stasiun televesi untuk menampilkan sinetron.

Mau dipungkiri ataupun tidak, setiap mata di Indonesia yang menyalakan tv di Indonesia akan berpapasan dengan sinetron. Entah itu hanya sekilas yang kemudian diganti chanel, atau bahkan sudah menjadi sajian yang ditunggu-tunggu dan digandrungi. Penikmatnya bisa bisa dari kalangan anak-anak, dewasa, sampai pada orang yang usia lanjut. Mereka bisa menikmati sinetron ini setiap hari, entah itu di siang hari, sore hari, atau malam hari.

Dengan demikian, jika melihat dari jumlah tayangnya, dan juga begitu banyaknya audience yang menikmati sinetron di berbagai belahan di Indonesia, mulai dari kota sampai ke pelosok desa, mau tidak mau sinetron bisa disebut telah menjadi bagian dalam masyarakat Indonesia. Ia hadir dan berinteraksi secara cepat di dalam masyarakat. Lebih cepat dinikmati daripada jalannya cerita yang disajikan dalam media cetak seperti koran atau majalah. Sebaran dan banyaknya penikmat lebih luas daripada tulisan dalam bentuk cerpen atau novel dalam sekali luncur. Berapa juta mata yang melihat tayangan tersebut dalam hitungan jam yang sama. Ini tidak bisa kita pungkiri atau tolak, karena sinetron memang sedang menjamur layaknya di musim penghujan.

Sinetron Perlu Dikritisi

Mungkin kita sudah tidak asing jika mendengar adanya kritik sastra. Bisa jadi itu suatu kritik atas suatu cerpen, puisi, novel, film, atau tulisan lainnya. Hal tersebut banyak ditemukan di berbagai media masa, atau bahkan diterbitkan dalam bentuk buku. Entah itu kritik berdasarkan analisa budaya, kehidupan, kemanusiaan, agama, dan sebagainya. Sebenarnya dari analisis dan kritik tersebut bisa mempertajam, memperluas, ataupun mendalami pemaknaan terhadap karya yang disuguhkan. Seperti kalau terhadap makanan kita diberi tahu tentang bumbunya, vitamin dan manfaat yang terkandung di dalamnya, saran-saran penyajian, dan sebagainya, tentu akan lebih nikmat dan bahkan tahu bagaimana kita harus mengkonsumsinya agar kita tetap sehat, bukannya malah menjadi penyakit dan racun karena sesuatu yang tidak seimbang atau berlebih dan salah takaran.

Kenapa sinetron perlu adanya kritisi? Karena ia sudah berbaur dengan masyarakat. Sehingga tidak salah kalau masyarakat diajak untuk mendalami sinetron yang disuguhkan. Secara langsung ataupun tidak langsung cerita dan karakter dalam sinetron akan masuk ke dalam emosi, pikiran, bahkan bisa membentuk watak dan budaya masyarakat. Dengan demikian, masyarakat juga harus diajak pula untuk membuka sudut pandang yang lebih luas terhadap sinetron, selain dari sebagai penerima yang pasif.

Dalam setiap cerita tentu ada sisi positif dan negatifnya, baik itu disadari ataupun tidak. Renspon emosi yang terjadi pada pemirsa tentu ada naik turunnya, entah itu marah, kesal, benci, sedih, dendam bisa terjadi saat itu juga ataupun berpengaruh secara pelan-pelan terhadap pribadi dan tersimpan di hati. Pola-pola penyelesaian masalah oleh tokoh dalam cerita bisa saja menjadi bahan acuan atau referensi bagi penggemar atau pribadi tertentu. Penyajian bahasa bisa juga menjadi tren dalam kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok anak muda dan remaja. Dan tentu saja masih banyak hal yang bisa terjadi dari dampak sebuah sinetron.

Berbagai Kelemahan sinetron di Indonesia

Menurut saya, ada beberapa kelemahan dan kritik dalam tampilan sinetron di Indonesia. Tentu saja ini adalah pandangan umum atas berbagai sinetron yang ditayangkan di stasiun televesi.

· Dari segi penggarapan

Terkesan asal jadi, hanya memenuhi target kuantitas atau jumlah sinetron yang dihasilkan. Istilahnya, bikin sinetron cepat selesaikan dan bisa bayaran. Sinetron di Indonesia seperti garapan borongan menggarap sawah saja. Jadinya hasilnya kurang mantap. Banyak sinetron yang dihasilkan, namun hanya satu dua atau bahkan tidak ada yang masuk daftar sinetron unggulan seperti box office dalam dunia perfilman.

· Karakter tokoh pemain

Kebanyakan karakter yang ditampilkan tokoh-tokoh pemain datar-datar saja. Tidak ada pembeda yang jelas atas mimik kaget, bengong, cinta, kangen, jujur, senang, dan sebagainya. Boleh dibilang rautnya ya itu-itu saja. Kalau dilihat sebenarnya boleh dikatakan itu membosankan.

Lain lagi banyak yang ‘over acting’. Terutama pada karakter senang, sinis, dan judes. Wah.. kalau sudah main bagian yang ini biasanya pemeran cenderung banyak tingkah, sehingga lupa pada pola permainan dan cerita menjadi tidak logis.

Ada banyak pula pemain yang canggung. Dalam arti tidak mantap dalam memainkan perannya. Seperti halnya belum pernah mendapat didikan seni peran. Terkesan modal tampang saja, atau seperti mendapat job dadakan.

· Karakter tokoh dalam cerita

Kebanyakan karakter yang ditampilkan adalah karakter: menjengkelkan, pemarah, pendendam, suka menangis/lemah, pemalas. Memang itu karakter yang sah-sah saja untuk dimainkan, tapi kalau tiap hari kita disuguhi karakter seperti itu bisa memperkeruh keadaan di Indonesia. Lihat saja, bangsa kita sedang terpuruk dari berbagai faktor, kalau ditambah dengan karakter seperti itu memang cepat diterima di pemirsa, tapi sayangnya tidak membangun ke masa depan. Mestinya banyak dihadirkan karakter kreatif, inovatif, ceria, suka bekerja, bersahabat, percaya diri, memenangkan persaingan global. Sepertinya sinetron kita setingnya kebanyakan jago kandang, alias hanya untuk memenangkan persaingan satu kelompok saja, sempit banget tujuan menyelesaikan masalahnya ya?

· Pola penyelesaian masalah.

Ini tampak kurang logis pada cerita-cerita persilatan atau semi kolosal. Misal saja, ketika bertemu dengan orang di hutan, langsung ditanya “Kamu mau apa?” jawab “Mau lewat”, dilanjutkan “Tidak boleh”, lalu berkelahi atau perang. Wah, itu rebutan apa. Sepertinya kok tidak masuk dalam alur cerita pokok, kayak ditambah-tambahkan saja, yang penting berkelahi. Sudah bangsa Indonesia parah sukanya menyalahkan orang dan berkelahi tanpa alasan yang jelas, ditambah dengan cerita yang berpola begitu, sepertinya sudah sah deh.

Atau kalau dalam cerita yang drama dan romantika, begitu punya masalah dengan seseorang, biasanya tokok trus membisikan rencana ke temannya. Nah hasilnya biasanya hanyalah menjaili temannya yang jadi tidak disukai tadi. Hal ini tidak menimbulkan pengertian pada persaingan yang sehat yang bisa memacu kepada cita-cita yang lebih tinggi, yaitu masa depan yang lebih baik.

· Bahasa dalam cerita

Saya menilai bahasanya terlalu bertele-tele. Seperti mau menjelaskan secara detail cerita dengan diucapkan. Kita melihat tayangan secara visual, bukan sedang membaca novel, mestinya gerakan isyarat, gerakan mimik, bibir, kepala, tangan dan sebagainya bisa jadi suatu bahasa tersendiri. Lebih tepatnya bisa dikatakan kita juga bisa memakai ‘body language’. Tidak semua harus dikatakan, bukankah kalau melihat gerakan tubuh, pemirsa juga bisa tahu apa dia marah, sedih, atau senang. Kalau semua diceritakan, ditinggal tiduran dan merem kita juga tahu tokohnya sedang apa. Misalkan saja, orang lagi melihat teman ceweknya bermesraan dengan temannya, si tokoh kemudian diperlihatkan wajahnya yang kerut-kerut, kemudian diberi back sound “saya marah sekali pada pacar saya, dia melecehkan saya, saya marah, awas kamu, akan aku balas”. Biasanya dibarengi dengan tangan memukul-mukul ke tangan satunya lagi. Atau cerita lain, ketika di depan pintu rumah temannya, eh.. ia masih ngomong “saya harus mengetuk pintu itu, dia ada di dalam nggak ya? Apa dia mau menerima saya. Ah, gimana ya… (dan seterusnya….).”

Sepertinya banyak bahasa yang bertele-tele ini digunakan untuk memperpanjang jam tayang. Isinya sedikit, tapi lama tayangnya bisa panjang. Kalau dibandingkan dengan film barat, mungkin kalau kita memakan waktu seperempat jam untuk satu setting, di sana hanya ditampilkan dalam jangka sepuluh detik untuk cerita yang sama dan makna yang sama bahkan bisa saja lebih banyak makna ceritanya yang sepuluh detik dibandingkan dengan yang seperempat jam.

· Ide Cerita

Ide cerita banyak yang menjiplak dari negara tetangga. Bahkan sampai sinetron yang mempunyai rating tinggi. Sungguh disayangkan, mestinya kita bisa berbangga, tapi ya sementara ini dibatalkan dulu rasa bangga tersebut. Karena itu bukan hasil murni anak negeri.

Cerita dongen yang dikisahkan kembali. Menggarap itu sih boleh saja. Tapi kalau settingnya dikacaukan, atau dibiaskan, wah itu menjadi tidak nikmat lagi. Contohnya cerita di negeri atas awan dalam kisah jaman kerajaan dongeng, dikisahkan ulang dengan raja yang berjas dan bermobil. Atau kisah Siti Nurbaya yang diseting di rumahan modern. Menurut saya itu hal yang tidak mendidik, apalagi bagi anak-anak. Karena dibelokkan dari setting history atas cerita itu sebenarnya. Apalagi cerita itu sudah masuk karya sastra yang bersejarah. Jangan ndompleng cerita untuk rating asal laku deh. Sayang sekali, kalau kebudayaan yang mahal kita diacak-acak dengan setting yang palsu.

Kita tidak pernah menggarap sesuatu ide cerita yang profesional. Misalnya kalau kita membuat cerita tentang perusahaan, biasanya perusahaan tersebut hanya tinggal latar belakangnya saja, sementara apa yang perlu diketahui masyarakat tentang perusahaan tidak dipaparkan.

Kita tidak pernah mengungkap bagaimana kegiatan menanggulangi korupsi misalnya. Sinetron tentang pemilu presiden misalnya, atau sinetron tentang kiprah kita di PBB. Pertandingan olah Raga di ASEAN misalnya. Pengolahan laut dan kekayaan bisa juga menjadi setingg cerita yang menarik. Dan masih banyak lagi yang semestinya bisa positif bila diungkap. Daripada bercerita tentang anak SMA yang ugal-ugalan, pemalas, suka bolos. Kalau cerita tentang anak SMA itu dibuat untuk menuju kepada olimpiade internasional, itu sih baru hebat. Nah ini adalah tantangan buat para Sineas Indonesia, kalau ingin membangun dunia sineas juga pola kecintaan masyarakat terhadap bangsanya.

Harapan atas dunia sinetron

Selain menyampaikan kritik, saya juga menyampaikan harapan. Karena kritik sebenarnya juga menyiratkan sebuah harapan yang lebih baik. Karena sinetron ini ternyata sudah masuk dalam kehidupan harian masyarakat. Maka sebaiknya perlu dibuat sinetron yang membangun pola-pola pikir masyarakat yang lebih dewasa. Lebih mau berusaha, percaya diri dan bisa bersaing ke tingkat nasional maupun internasional. Jadi sinetron sebaiknya diberi isian yang bersifat kreatif, inovatif, percaya diri, persaingan yang positif sampai ke tingkat internasional jika perlu, dan semangat untuk memperbaiki keadaan nasional kita pada segi-segi yang sedang terpuruk.

Semoga para pembuat sinetron tertantang untuk membuat ide-ide baru seperti yang telah diungkapkan di atas. Sehingga dunia sinetron dan perfilman kita pada umumnya lebih maju, bahkan bisa membawa citra bangsa Indonesia harus di negeri sendiri maupun di dunia internasional.

“Viva Perfilman Indonesia”

Penulis: Agus Mujilan

14 Desember 2007

Penggemar dan pengamat film

Link lain yang memuat kritik sinetron:

http://clea.kunci.or.id

2 Responses

  1. sebuah analisis yang kritis dan bagus Pak!
    saya juga berpikir yang yang sama tentang sinetron kita, “pathetic”. Saya baru baca di koran n menejer humas dari salah satu tv swasta kita bilang jika tv-nya ingn menyuguhkan tayangan yang mendidik dan menghibur bagi para pemirsa tv. Memang tayangan akhir tahun mereka diisi oleh film2 Indonesia yang berkualitas, tapi tayangan yang mereka suguhkan sebelumnya kebanyakan adalah tayangan sinetron yang tidak pernah diketahui kapan awal dan akhirnya. Sayang sekali waktu yang terbuang untuk menayangkan dan menonton sinetron seperti itu dan lebih sayang lagi moral bangsa yang akan diukir oleh tontonan seperti itu.

    saya juga masih mengharap tanggapan bapak.
    thanks,

    *****************************

    Iya, saya yakin kalau diberi kesempatan di Indonesia ini masih banyak yang bisa berkreasi dan menghasilkan pikiran positive untuk dapat ditonton. Asal apresiasi dari semua kalangan terhadap hasil karya bisa tumbuh dengan baik pula. Kalau karyanya bagus dan mendidik yang harus ada reward dari masyarakat penikmatnya. Kalau orang luar sana, ada inovasi kecil aja suport dan reward dari penikmatnya sudah antusias banget. Memberikan respon, melihat, menikmati, dan memberi aplouse alias tepuk tangan. Kalau masyarakat kita terbiasa dengan memberi penghargaan kepada orang yang kreatif, tentu yang kreatif akan makin banyak. Bukannya respon dengan cara membuat bajakannya.
    Kebutuhan Indonesia sekarang tidak hanya terhenti pada tayangan yang mendidik dan menghibur, tapi juga ada satu hal lagi, yaitu mengembangkan potensi. Menghibur itu bagus, untuk sesaat, tapi yang bisa membuka wawasan, kreasi imaginasi alias ilham menjalani hidup dan profesi. Nah itu akan bertahan lebih lama, karena hari ke hari akan menumbuhkan hal-hal baru karena kreasi pikiran. Kalau sekedar lelucon tanpa diberi isi sikap kreatif, wahhhh mubadzir, paling ditonton, digemari, habis itu gak berkesan. Itu hanya populer sesaat. Lihat Mr. Bean, lucunya karena orang bisa berimaginasi dengan pikirannya lalu bisa tertawa, tertawa dari kesadarannya sendiri untuk tertawa.. hehehe…
    Nyuwun sewo.. tidak membadingkan dengan mas Thukul.. tapi mas Thukul sifat kreatifnya kurang, guyonannya ya seputar meledek orang, trus asosiasi. Bukankah banyak sifat negatifnya yang belum pantas jika ada anak-anak yang meniru?? Yang paling saya tunggu di Mas Thukul hanya kalo dia bilang “tetap positif, Tetap Semangat……”
    Nah.. itulah yang mesti ditunggu-tunggu.. ‘tetap semangat…’

  2. iya bener kata pak agus.saya sangat setuju dengan apa yan dipaparkan beliau.saya menilai film di indonesia khususnya sinetron,terkesan sangat muluk muluk seperti film india.dan memang benar, semua tindakan dipaparkan dengan kata kata yang semestinya cukup dengan bahasa tubuh.semua itu terkesan sepertinya kita terlalu bodoh untuk menanggapi suatu karakter orang…

    tolong dong kreatif

Leave a Reply