<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kritik Sinetron Indonesia</title>
	<atom:link href="http://agusmuji.wordpress.com/2007/12/15/kritik-sinetron-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusmuji.wordpress.com/2007/12/15/kritik-sinetron-indonesia/</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jun 2008 09:06:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ajun</title>
		<link>http://agusmuji.wordpress.com/2007/12/15/kritik-sinetron-indonesia/#comment-6</link>
		<dc:creator>ajun</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 15:18:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusmuji.wordpress.com/2007/12/15/kritik-sinetron-indonesia/#comment-6</guid>
		<description>iya bener kata pak agus.saya sangat setuju dengan apa yan dipaparkan beliau.saya menilai film di indonesia khususnya sinetron,terkesan sangat muluk muluk seperti film india.dan memang benar, semua tindakan dipaparkan dengan kata kata  yang semestinya cukup dengan bahasa tubuh.semua itu terkesan sepertinya kita terlalu bodoh untuk menanggapi suatu karakter orang...


tolong dong  kreatif</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>iya bener kata pak agus.saya sangat setuju dengan apa yan dipaparkan beliau.saya menilai film di indonesia khususnya sinetron,terkesan sangat muluk muluk seperti film india.dan memang benar, semua tindakan dipaparkan dengan kata kata  yang semestinya cukup dengan bahasa tubuh.semua itu terkesan sepertinya kita terlalu bodoh untuk menanggapi suatu karakter orang&#8230;</p>
<p>tolong dong  kreatif</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: puji</title>
		<link>http://agusmuji.wordpress.com/2007/12/15/kritik-sinetron-indonesia/#comment-4</link>
		<dc:creator>puji</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 05:38:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusmuji.wordpress.com/2007/12/15/kritik-sinetron-indonesia/#comment-4</guid>
		<description>sebuah analisis yang kritis dan bagus Pak!
saya juga berpikir yang yang sama tentang sinetron kita, &quot;pathetic&quot;. Saya baru baca di koran n menejer humas dari salah satu tv swasta kita bilang jika tv-nya ingn menyuguhkan tayangan yang mendidik dan menghibur bagi para pemirsa tv. Memang tayangan akhir tahun mereka diisi oleh film2 Indonesia yang berkualitas, tapi tayangan yang mereka suguhkan sebelumnya kebanyakan adalah tayangan sinetron yang tidak pernah diketahui kapan awal dan akhirnya. Sayang sekali waktu yang terbuang untuk menayangkan dan menonton sinetron seperti itu dan lebih sayang lagi moral bangsa yang akan diukir oleh tontonan seperti itu.

saya juga masih mengharap tanggapan bapak.
thanks,

*****************************

Iya, saya yakin kalau diberi kesempatan di Indonesia ini masih banyak yang bisa berkreasi dan menghasilkan pikiran positive untuk dapat ditonton. Asal apresiasi dari semua kalangan terhadap hasil karya bisa tumbuh dengan baik pula. Kalau karyanya bagus dan mendidik yang harus ada reward dari masyarakat penikmatnya. Kalau orang luar sana, ada inovasi kecil aja suport dan reward dari penikmatnya sudah antusias banget. Memberikan respon, melihat, menikmati, dan memberi aplouse alias tepuk tangan. Kalau masyarakat kita terbiasa dengan memberi penghargaan kepada orang yang kreatif, tentu yang kreatif akan makin banyak. Bukannya respon dengan cara membuat bajakannya.
Kebutuhan Indonesia sekarang tidak hanya terhenti pada tayangan yang mendidik dan menghibur, tapi juga ada satu hal lagi, yaitu mengembangkan potensi. Menghibur itu bagus, untuk sesaat, tapi yang bisa membuka wawasan, kreasi imaginasi alias ilham menjalani hidup dan profesi. Nah itu akan bertahan lebih lama, karena hari ke hari akan menumbuhkan hal-hal baru karena kreasi pikiran. Kalau sekedar lelucon tanpa diberi isi sikap kreatif, wahhhh mubadzir, paling ditonton, digemari, habis itu gak berkesan. Itu hanya populer sesaat. Lihat Mr. Bean, lucunya karena orang bisa berimaginasi dengan pikirannya lalu bisa tertawa, tertawa dari kesadarannya sendiri untuk tertawa.. hehehe...
Nyuwun sewo.. tidak membadingkan dengan mas Thukul.. tapi mas Thukul sifat kreatifnya kurang, guyonannya ya seputar meledek orang, trus asosiasi. Bukankah banyak sifat negatifnya yang belum pantas jika ada anak-anak yang meniru?? Yang paling saya tunggu di Mas Thukul hanya kalo dia bilang &quot;tetap positif, Tetap Semangat......&quot; 
Nah.. itulah yang mesti ditunggu-tunggu.. &#039;tetap semangat...&#039;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebuah analisis yang kritis dan bagus Pak!<br />
saya juga berpikir yang yang sama tentang sinetron kita, &#8220;pathetic&#8221;. Saya baru baca di koran n menejer humas dari salah satu tv swasta kita bilang jika tv-nya ingn menyuguhkan tayangan yang mendidik dan menghibur bagi para pemirsa tv. Memang tayangan akhir tahun mereka diisi oleh film2 Indonesia yang berkualitas, tapi tayangan yang mereka suguhkan sebelumnya kebanyakan adalah tayangan sinetron yang tidak pernah diketahui kapan awal dan akhirnya. Sayang sekali waktu yang terbuang untuk menayangkan dan menonton sinetron seperti itu dan lebih sayang lagi moral bangsa yang akan diukir oleh tontonan seperti itu.</p>
<p>saya juga masih mengharap tanggapan bapak.<br />
thanks,</p>
<p>*****************************</p>
<p>Iya, saya yakin kalau diberi kesempatan di Indonesia ini masih banyak yang bisa berkreasi dan menghasilkan pikiran positive untuk dapat ditonton. Asal apresiasi dari semua kalangan terhadap hasil karya bisa tumbuh dengan baik pula. Kalau karyanya bagus dan mendidik yang harus ada reward dari masyarakat penikmatnya. Kalau orang luar sana, ada inovasi kecil aja suport dan reward dari penikmatnya sudah antusias banget. Memberikan respon, melihat, menikmati, dan memberi aplouse alias tepuk tangan. Kalau masyarakat kita terbiasa dengan memberi penghargaan kepada orang yang kreatif, tentu yang kreatif akan makin banyak. Bukannya respon dengan cara membuat bajakannya.<br />
Kebutuhan Indonesia sekarang tidak hanya terhenti pada tayangan yang mendidik dan menghibur, tapi juga ada satu hal lagi, yaitu mengembangkan potensi. Menghibur itu bagus, untuk sesaat, tapi yang bisa membuka wawasan, kreasi imaginasi alias ilham menjalani hidup dan profesi. Nah itu akan bertahan lebih lama, karena hari ke hari akan menumbuhkan hal-hal baru karena kreasi pikiran. Kalau sekedar lelucon tanpa diberi isi sikap kreatif, wahhhh mubadzir, paling ditonton, digemari, habis itu gak berkesan. Itu hanya populer sesaat. Lihat Mr. Bean, lucunya karena orang bisa berimaginasi dengan pikirannya lalu bisa tertawa, tertawa dari kesadarannya sendiri untuk tertawa.. hehehe&#8230;<br />
Nyuwun sewo.. tidak membadingkan dengan mas Thukul.. tapi mas Thukul sifat kreatifnya kurang, guyonannya ya seputar meledek orang, trus asosiasi. Bukankah banyak sifat negatifnya yang belum pantas jika ada anak-anak yang meniru?? Yang paling saya tunggu di Mas Thukul hanya kalo dia bilang &#8220;tetap positif, Tetap Semangat&#8230;&#8230;&#8221;<br />
Nah.. itulah yang mesti ditunggu-tunggu.. &#8216;tetap semangat&#8230;&#8217;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
