Tutup tahun 2007 diwarnai dengan hujan air dan hujan air mata. Tepatnya setelah hari Natal 2007 atau 25 Desember 2007 sampai tahun baru 2008. Penuh kejutan, tapi kejutan yang tidak mengenakkan.
Pada malam tanggal 25 hujan sudah turun (sebenarnya hujan juga turun di hari sebelumnya), tapi pada malam itu begitu derasnya. Ada petir ada angin, istilahnya komplit deh. Hujan yang deras di malam itu ternyata merupakan awal dari rangkaian banjir di sekitar sungai Bengawan Solo. Mulai dari Wonogiri (waduk Gajah Mungkur), turun ke Solo, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Tulungagung, Gresik. Semua kena getahnya. Bahkan sampai tanggal saya menulis sebagian belum surut (4 Januari 2007). Lama kan?
Kabarnya banjir juga sampai Kudus, dan Semarang. Belum lagi yang kena angin ribut Pacitan, Kediri, Semarang. Belum juga di luar jawa. Tanah longsor yang merenggut korban jiwa sampai 60 an lebih. Banjir juga menelan korban jiwa 60 lebih.
Wah rasanya, tahun ini Indonesia di peringatkan lagi oleh alam, naiknya sih oleh yang Kuasa. Mestinya Indonesia segera berbenah, karena sudah banyak sekali bencana yang berentetan dari hari-ke hari, tak putus-putus, silih berganti, dan membawa tangis serta nestapa. Berbenah fisik, pikiran, dan hati.
Dampak kejahatan budi, moral, dan tatanan mungkin sudah dicium oleh alam yang terbengkalai, dan diperingatkan oleh Tuhan.
Mawas diri dan mulai berbenah! Dari yang punya kuasa untuk membangun dan punya kuasa untuk menggerakkan masyarakat. Berhenti menghujat dan berebut tulang kosong alias pepesan kosong. Jangan menyalahkan satu sama lain. Terutama jangan menganggap diri paling suci dan bebas dari semua dosa, kemudian menindas orang lain yang diangap tidak suci, memaksakan kesucian dengan cara pola pikir kesucian dirinya sendiri atau kelompoknya.
Di mana kesucian yang sesungguhnya adalah jika orang banyak merasa tenteram dan nyaman untuk hidup karenanya. Bukan karena khotbah atau klaim kesucian dan peraturan kemanusiaan.
Anda dan kita berdoa agar bencana ini selesai??? TIDAK SEMUDAH ITU. Berdoalah agar kita masing-masing sadar diri, dan bertobat dari kesalahan yang sudah membudaya, dari pikiran yang merampas dan menindas orang lain maupun alam. Karena ngapain Tuhan pusing-pusing mendengarkan doa kita, kalau kita sendiri seenaknya menindas doa orang lain yang lebih membutuhkan perhatian atau yang lemah, atau golongan lemah, atau golongan minoritas, atau apalah.
Sadarkan diri kita, setelah itu barulah kita akan berdoa, agar ke depan kehidupan di Indonesia menjadi baik. Meskipun banyak ramalan ini baru permulaan. Tapi kalau bangsa ini bisa berubah menjadi lebih baik, maka semua ramalan itu bisa berubah. Tapi jika masih tetap saling membenci, maka ‘yang harus terjadi terjadilah’, tak kan ada satu doapun yang mampu menghalangi.
Filed under: Umum


Setuju!
Penyesalan adalah kata yang sudah basi. Terlambat sudah…