Budaya Antri dan Saling Menghormati perlu ditingkatkan

budayakan antriApakah kaitannya antara antri dan menghormati? Tentu saja ada. Jika kita bisa menghormati orang lain, tentu bisa bersabar hati untuk mengantri di belakang orang yang datang lebih dahulu. Budaya antri secara pribadi bisa ditanamkan kepada diri sendiri bahwa saya mesti menghormati orang lain, mendahalukan orang lain yang lebih dahulu datang, atau mendahulukan orang lain yang sudah masuk jalur (dalam lalu lintas misalnya).

Secara pribadi-pribadi hal ini akan terkumpul dalam satu kelompok masyarakat, dan kelompok masyarakat akan membentuk suatu bangsa dan negara. Imbasnya, bukan hanya berhenti pada menanamkan budaya antri dan menghormati pada diri sendiri, tapi lebih jauh dari itu. Ketika seseorang berkuasa membentuk sistem, misalnya manajemen ataupun pimpinan nasional, maka akan memikirkan pula bagaimana membuat sistem yang bisa mengakomodasi budaya saling menghormati dan antri.

Berbagai hal yang menggelitik pemikiran saya ini adalah ketika saya melihat berita bahwa ada 11 orang yang meninggal saat menonton pertunjukkan musik underground di Bandung, sebelumnya juga ada ketika pertunjukkan musik Ungu Band. Sistem tidak mendukung adanya jalan masuk dan kapasitas ruang, jalan keluar masuk di jadikan satu. Sudah budaya antri bagi personel pribadi yang datang kurang tinggi, belum lagi manajemen pertunjukkan tidak menghormati sepenuhnya orang yang datang, tidak disediakan tempat yang layak untuk keluar masuk.

Masalah lain yang timbul misalnya, ketika ada pembagian sembako bagi keluarga miskin, bisa saja menimbulkan masalah besar sampai ada yang meninggal, karena saling berebut kesempatan dan melupakan yang tua renta, yang tidak bisa punya tenaga dan kekuatan seperti yang lebih muda. Si tua bisa pingsan karena desakan.

Masalah pembagian bantuan untuk korban bencana pun kadang juga menimbulkan keirian, kok dia dapat lebih banyak?? Kok saya tidak dapat seperti itu?? Padahal sebenarnya sudah perlu bersyukur ia bisa selamat dari bencana. Kekisruan pada masa pembagian bantuan bisa saja terjadi pada saat pembagian maupun setelahnya. Yang bertugas membagipun kadang tidak bisa adil, hanya keluarganya yang dipentingkan, yang berhak mendapat malah tidak mendapat. Sehingga terjadi konflik. Ini benar-benar terjadi misalnya di kasus pembagian dana bantuan korban bencana di Jogjakarta, yang dalam tanda kutip bukan di tempat pusat bencana. Malah agak jauh, ada bantuan 15 jt, 4 jt, 2 jt, 1 jt. dst untuk pemugaran rumah. Tapi saya melihat sendiri, bahwa keluarga si manajer bantuan mendapat yang besar ketimbang orang yang memang mengalami kerusakan, bisa jadi yang mengalami kerusakan justru tidak mendapat apa-apa. Ironis bukan?

Nah, inilah masalah sosial yang perlu ditingkatkan lagi kesadarannya. Menghormati orang lain dan mengantri sesuai jatahnya dan haknya mestinya menjadi kesadaran bagi setiap orang. Coba dipikir, berapa banyak kendaraan yang main serobot di jalan meskipun jalur sudah ditempati orang lain. Ketika ia jatuh yang disalahkan orang lain yang sudah pada jalurnya, itu juga ironis.

Mulailah membudayakan antri dan menghormati orang lain. Jangan takut untuk mundur dahulu jika itu memang hak orang lain.

Leave a Reply