Pola Pendidikan Mengejar Pengerjaan Soal

Siswa-Siswa sedang belajarSiswa asyik belajar

Menyimak tulisan di Media Indonesia yang menyatakan bahwa Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) belum menjawab permasalahan pengangguran di Indonesia. Pasalnya, kebijakan pendidikan selama ini, hanya diarahkan pada output oriented.

“Untuk itu, sistem pendidikan nasional yang ada saat ini, harus direformasi menjadi job oriented,” ungkap Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno kepada pers seusai meraih gelar doktoral pada program manajemen pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta, Selasa (4/3).

Ini seperti yang mungkin kita pikirkan bersama, kecenderungan pendidikan di sekolah-sekolah biasanya adalah untuk mengejar nilai yang bagus waktu ujian. Apalagi untuk ujian akhir. Getol-getol sekolahan mengadakan latihan mengerjakan soal. Jika paradigmanya adalah sekolah untuk mengerjakan soal, nah inilah yang membuat inovasi dan creativitas daya pikir murid menjadi terbatas dan terbebani.

Mungkin dia anak pinter di sekolah, dengan nilai ujian tinggi, tapi dari itu, bisa juga ia tidak tahu bagaimana mengimplementasikan kepadaiannya tersebut ke kasus yang sebenarnya.

Paradigma pendidikan di Indonesia ke depan ini akan diubah oleh Diknas menjadi porsi terbalik. Jika kemarin 70:30 untuk SMA dan Kejuruan, maka besok akan diubah menjadi 30:70. Sekolah menengah akan diperbanyak penguasaan ketrampilan untuk memasuki kebutuhan pasar kerja.

Jika dulu sekolah menengah kejuruan adalah dipandang menjadi nomor dua, maka besok akan banyak dikejar oleh lulusan SLTP.

Kembali lagi ke soal sistem pengajaran. Pola-pola pengajaran dengan mendasarkan pada pengerjaan soal ujian mungkin sangat membatasi visi pendidikan ke jangkauan lebih jauh. Dampaknya, kurang banyak Inovasi dan penemuan di Indonesia ini. Research juga menjadi malas, karena siswa tidak dididik untuk meneliti sejak awal. Mestinya perlu juga diajarkan bagaimana cara membuat karya ilmiah yang benar. Hal yang sepele, misal membuat foot note, footer, index, dsb. Jangankan hal yang lebih rumit, yang sering saya temui adalah seorang lulusan sekolah masih bingung apa yang harus ditulis di surat lamaran, inovasi apa yang bisa dikerjakan dalam membuat surat lamaran agar bisa merepresentasikan dirinya lebih baik.

Semoga pendidikan di Indonesia makin maju, berkembang, dan berkualitas. Sehingga bisa mengejar ketertinggalan dari negara lain sesama ASIA misalnya. Mendirikan sekolah bukan sekedar berdagang siswa atau murid. Mencari masukan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan finansial. Tapi lebih dari itu, cita-cita besar bangsa harus lebih diinspirasikan untuk setiap sekolah. Membuat manusia Indonesia lebih maju daripada sekarang memang sulit, tapi harus ada yang memulai.

Hal ini tentu tidak akan terlepas dari peran besar Dinas Pendidikan, Kementrian Pendidikan, dan semua aparat maupun pemerintahan, tak lepas juga dari masyarakatnya itu sendiri. Pemerintah harus bisa membentuk sistem yang paling pas dan cocok untuk kondisi saat ini, tetapi juga harus menuju ke satu goal jangka tertentu bidang kemajuannya. Jika pemerintah yang menangani sistem belum bangun dari lelap, maka daya dari masyarakat pelaksana akan tersendat-sendat bahkan gagal. Sudah gaji dinaikkan, kalau tidak ada kemajuan, ya sama saja dengan makan gaji buta demi kepentingan pribadi.

Leave a Reply