Jakarta Ditemani Banjir Lagi

Jumat, 1 Februari 2008, awal bulan dimana kota jakarta terlihat kelam oleh mendung dan curahan air hujan dari langit. Hujan yang turun membuat kota Jakarta kemurahan air, sampai di Jalan-jalan menjadi tempat alirannya, alias banjir. Belum lagi ditambah angin kencang secara kontemporer…. lima menit angin.. trus tenang.. ada angin lagi… sampai beberapa kali.

Banyak daerah yang banjir… jalanan jadi banyak yang macet, antara lain daerah Kemang, Kebon Jeruk, Kalideres, Daan Mogot, Bundaran HI. Di tempat yang biasanya tidak banjir pun kebagian banjir. Bahkan sampai di depan Istana Negara jalan kena air, sampai-sampai Presiden SBY pun kena dampaknya dan terkendala oleh genangan air, ya kan pake mobil kalo pake perahu karet pasti gak macet ya….??? Pohon di area Istana negara pun ada yang roboh, pohonnya besar, untungnya tidak mengenai bangunan.

Perkiraan hujan masih akan berlangsung sehari lagi (menurut BMG), semoga tidak berlanjut ya. Sebab sehari hujan saja sudah banjir rata-rata 5o cm, ada yang 40 cm ada yang 60 cm.

Semoga hujannya bersahabat, jadi Jakarta tidak ditemani banjir berlama-lama. Atau mungkin sudah saatnya membangun sungai bawah kota ya?? Biar jalan airnya tidak cuma kecil dan dibuangi sampah terus menerus….

In Memoriam, Soeharto

Soeharto dan Ibu TienMantan Presiden RI yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 itu kini telah meninggalkan bangsa Indonesia untuk pergi ke alam sana pada siang hari Senin, 27 Januari 2008 sekitar pukul 13.18 wib. Kepergiannya ini setelah melalui penderitaan sakit selama sekitar 3 minggu di rumah sakit Pusat Pertamina Jakarta. Beliau akan dimakamkan di Sasana Laya Giribangun Jawa Tengah di dekat istri tercintanya Ibu Tien Soeharto. Pemakaman pada Selasa, 28 Januari 2008 dengan upacara kemiliteran baru setelah itu upacara adat Jawa.

Banyak pimpinan negara maupun mantan pimpinan negara yang datang melayat ke rumah duka di Jakarta sesaat setelah mendengar kabar kepergian Bapak Seoharto.

Bagaimanapun ia adalah Pahlawan yang pernah berjasa kepada Negeri Indonesia sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

“SELAMAT JALAN Bapak Soeharto.”

Soeharto mantan presiden, sakit

Awal tahun 2008 ini kembali mantan Presiden RI II, Soeharto kembali dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Kondisinya sampai mengalami kritis. Diantara itu, media masa begitu banyak mengulas tentang keberadaan Bpk. Soeharto, baik dari masa sakitnya, maupun masa sebelumnya.

Banyak kalangan memuji maupun mencela keberadaan Soeharto pada waktu dia menjabat. Ada yang suka, ada yang tidak, wajar saja. Karena banyak jasa tapi juga banyak kesalahan saat dia memerintah selama 32 tahun.

Tapi bagi saya pribadi, saya melihat Soeharto saat ini adalah sebagai tetangga saya. Orang yang sama terlahir di Jogjakarta. Mempunyai daerah di pedesaan yang indah dan lugu. Juga sama-sama berada di bawah pemerintah Sultan Jogjakarta “Sultan Hamengku Buwono” baik yang ke IX yang terkenal itu yang sampai Belanda-pun kagum dan hormat padanya, sampai dengan Sultan Hamengku Buwono X yang saat ini menjadi Gubernur DIY.

Dia terlahir di Kemusuk, Argomulyo, Bantul. Daerah di selatan Godean, atau barat Jogjakarta, dan utara Gamping. Waktu kecil saya juga pernah bersepeda ke Daerah itu. Sekolahan saya juga lumayan dekat dengan daerah itu kira-kira 3 km. Sementara kalau dari rumah saya yang kira-kira 10 km. Kalau melihat daerah pedesaan yang seperti itu, rasanya memang menenangkan dan indah, tentu beda dengan Kota Jakarta ataupun kota Jogjakarta sendiri.

Kalau sedang sakit gini, mending melihat Soeharto sebagai manusia biasa, daripada berpikir tentang politik.

Malu deh..

Malu sih sebenernya kalau aku pikirkan lagi. Bukan masalah berat sih, tapi ya riskan dan membawa resiko. Apa sih? Itu lho, lupa pada standar/sandar sepeda motor. Kalau sepeda motor aku standarkan satu, kadang aku trus berangkat aja dan lupa mengangkat standarnya. Yang malu tuh kalo di jalan mesti diingetkan sama orang lain. Syukurlah masih ada yang perhatian sama aku, kasih peringatan. Thanks buat orang-orang yang peduli pada keselamatan pengendara lain… Untungnya gak di tilang ya.. abisnya kalau ditilang keluar duit nih… hehe

Hujan, Banjir, Angin di Jawa

Tutup tahun 2007 diwarnai dengan hujan air dan hujan air mata. Tepatnya setelah hari Natal 2007 atau 25 Desember 2007 sampai tahun baru 2008. Penuh kejutan, tapi kejutan yang tidak mengenakkan.

Pada malam tanggal 25 hujan sudah turun (sebenarnya hujan juga turun di hari sebelumnya), tapi pada malam itu begitu derasnya. Ada petir ada angin, istilahnya komplit deh. Hujan yang deras di malam itu ternyata merupakan awal dari rangkaian banjir di sekitar sungai Bengawan Solo. Mulai dari Wonogiri (waduk Gajah Mungkur), turun ke Solo, Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Tulungagung, Gresik. Semua kena getahnya. Bahkan sampai tanggal saya menulis sebagian belum surut (4 Januari 2007). Lama kan?

Kabarnya banjir juga sampai Kudus, dan Semarang. Belum lagi yang kena angin ribut Pacitan, Kediri, Semarang. Belum juga di luar jawa. Tanah longsor yang merenggut korban jiwa sampai 60 an lebih. Banjir juga menelan korban jiwa 60 lebih.

Wah rasanya, tahun ini Indonesia di peringatkan lagi oleh alam, naiknya sih oleh yang Kuasa. Mestinya Indonesia segera berbenah, karena sudah banyak sekali bencana yang berentetan dari hari-ke hari, tak putus-putus, silih berganti, dan membawa tangis serta nestapa. Berbenah fisik, pikiran, dan hati.

Dampak kejahatan budi, moral, dan tatanan mungkin sudah dicium oleh alam yang terbengkalai, dan diperingatkan oleh Tuhan.

Mawas diri dan mulai berbenah! Dari yang punya kuasa untuk membangun dan punya kuasa untuk menggerakkan masyarakat. Berhenti menghujat dan berebut tulang kosong alias pepesan kosong. Jangan menyalahkan satu sama lain. Terutama jangan menganggap diri paling suci dan bebas dari semua dosa, kemudian menindas orang lain yang diangap tidak suci, memaksakan kesucian dengan cara pola pikir kesucian dirinya sendiri atau kelompoknya.

Di mana kesucian yang sesungguhnya adalah jika orang banyak merasa tenteram dan nyaman untuk hidup karenanya. Bukan karena khotbah atau klaim kesucian dan peraturan kemanusiaan.

Anda dan kita berdoa agar bencana ini selesai??? TIDAK SEMUDAH ITU. Berdoalah agar kita masing-masing sadar diri, dan bertobat dari kesalahan yang sudah membudaya, dari pikiran yang merampas dan menindas orang lain maupun alam. Karena ngapain Tuhan pusing-pusing mendengarkan doa kita, kalau kita sendiri seenaknya menindas doa orang lain yang lebih membutuhkan perhatian atau yang lemah, atau golongan lemah, atau golongan minoritas, atau apalah.

Sadarkan diri kita, setelah itu barulah kita akan berdoa, agar ke depan kehidupan di Indonesia menjadi baik. Meskipun banyak ramalan ini baru permulaan. Tapi kalau bangsa ini bisa berubah menjadi lebih baik, maka semua ramalan itu bisa berubah. Tapi jika masih tetap saling membenci, maka ‘yang harus terjadi terjadilah’, tak kan ada satu doapun yang mampu menghalangi.

Kritik Sinetron Indonesia

Kritik Sinetron Indonesia

Saat ini dunia tontonan televesi tidak bisa lepas dari adanya suguhan “Sinetron”. Sinema Elektronik yang lebih dikenal dengan sinetron ini telah menjadi makanan pokok sehari-hari bagi dunia pertelevisian. Bukan seperti lauk atau bahkan sebagai bumbu yang sekedar melengkapi sajian. Tapi rupanya sudah menjadi garapan utama bagi stasiun televesi untuk menampilkan sinetron.

Mau dipungkiri ataupun tidak, setiap mata di Indonesia yang menyalakan tv di Indonesia akan berpapasan dengan sinetron. Entah itu hanya sekilas yang kemudian diganti chanel, atau bahkan sudah menjadi sajian yang ditunggu-tunggu dan digandrungi. Penikmatnya bisa bisa dari kalangan anak-anak, dewasa, sampai pada orang yang usia lanjut. Mereka bisa menikmati sinetron ini setiap hari, entah itu di siang hari, sore hari, atau malam hari.

Dengan demikian, jika melihat dari jumlah tayangnya, dan juga begitu banyaknya audience yang menikmati sinetron di berbagai belahan di Indonesia, mulai dari kota sampai ke pelosok desa, mau tidak mau sinetron bisa disebut telah menjadi bagian dalam masyarakat Indonesia. Ia hadir dan berinteraksi secara cepat di dalam masyarakat. Lebih cepat dinikmati daripada jalannya cerita yang disajikan dalam media cetak seperti koran atau majalah. Sebaran dan banyaknya penikmat lebih luas daripada tulisan dalam bentuk cerpen atau novel dalam sekali luncur. Berapa juta mata yang melihat tayangan tersebut dalam hitungan jam yang sama. Ini tidak bisa kita pungkiri atau tolak, karena sinetron memang sedang menjamur layaknya di musim penghujan.

Sinetron Perlu Dikritisi

Mungkin kita sudah tidak asing jika mendengar adanya kritik sastra. Bisa jadi itu suatu kritik atas suatu cerpen, puisi, novel, film, atau tulisan lainnya. Hal tersebut banyak ditemukan di berbagai media masa, atau bahkan diterbitkan dalam bentuk buku. Entah itu kritik berdasarkan analisa budaya, kehidupan, kemanusiaan, agama, dan sebagainya. Sebenarnya dari analisis dan kritik tersebut bisa mempertajam, memperluas, ataupun mendalami pemaknaan terhadap karya yang disuguhkan. Seperti kalau terhadap makanan kita diberi tahu tentang bumbunya, vitamin dan manfaat yang terkandung di dalamnya, saran-saran penyajian, dan sebagainya, tentu akan lebih nikmat dan bahkan tahu bagaimana kita harus mengkonsumsinya agar kita tetap sehat, bukannya malah menjadi penyakit dan racun karena sesuatu yang tidak seimbang atau berlebih dan salah takaran.

Kenapa sinetron perlu adanya kritisi? Karena ia sudah berbaur dengan masyarakat. Sehingga tidak salah kalau masyarakat diajak untuk mendalami sinetron yang disuguhkan. Secara langsung ataupun tidak langsung cerita dan karakter dalam sinetron akan masuk ke dalam emosi, pikiran, bahkan bisa membentuk watak dan budaya masyarakat. Dengan demikian, masyarakat juga harus diajak pula untuk membuka sudut pandang yang lebih luas terhadap sinetron, selain dari sebagai penerima yang pasif.

Dalam setiap cerita tentu ada sisi positif dan negatifnya, baik itu disadari ataupun tidak. Renspon emosi yang terjadi pada pemirsa tentu ada naik turunnya, entah itu marah, kesal, benci, sedih, dendam bisa terjadi saat itu juga ataupun berpengaruh secara pelan-pelan terhadap pribadi dan tersimpan di hati. Pola-pola penyelesaian masalah oleh tokoh dalam cerita bisa saja menjadi bahan acuan atau referensi bagi penggemar atau pribadi tertentu. Penyajian bahasa bisa juga menjadi tren dalam kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok anak muda dan remaja. Dan tentu saja masih banyak hal yang bisa terjadi dari dampak sebuah sinetron.

Berbagai Kelemahan sinetron di Indonesia

Menurut saya, ada beberapa kelemahan dan kritik dalam tampilan sinetron di Indonesia. Tentu saja ini adalah pandangan umum atas berbagai sinetron yang ditayangkan di stasiun televesi.

· Dari segi penggarapan

Terkesan asal jadi, hanya memenuhi target kuantitas atau jumlah sinetron yang dihasilkan. Istilahnya, bikin sinetron cepat selesaikan dan bisa bayaran. Sinetron di Indonesia seperti garapan borongan menggarap sawah saja. Jadinya hasilnya kurang mantap. Banyak sinetron yang dihasilkan, namun hanya satu dua atau bahkan tidak ada yang masuk daftar sinetron unggulan seperti box office dalam dunia perfilman.

· Karakter tokoh pemain

Kebanyakan karakter yang ditampilkan tokoh-tokoh pemain datar-datar saja. Tidak ada pembeda yang jelas atas mimik kaget, bengong, cinta, kangen, jujur, senang, dan sebagainya. Boleh dibilang rautnya ya itu-itu saja. Kalau dilihat sebenarnya boleh dikatakan itu membosankan.

Lain lagi banyak yang ‘over acting’. Terutama pada karakter senang, sinis, dan judes. Wah.. kalau sudah main bagian yang ini biasanya pemeran cenderung banyak tingkah, sehingga lupa pada pola permainan dan cerita menjadi tidak logis.

Ada banyak pula pemain yang canggung. Dalam arti tidak mantap dalam memainkan perannya. Seperti halnya belum pernah mendapat didikan seni peran. Terkesan modal tampang saja, atau seperti mendapat job dadakan.

· Karakter tokoh dalam cerita

Kebanyakan karakter yang ditampilkan adalah karakter: menjengkelkan, pemarah, pendendam, suka menangis/lemah, pemalas. Memang itu karakter yang sah-sah saja untuk dimainkan, tapi kalau tiap hari kita disuguhi karakter seperti itu bisa memperkeruh keadaan di Indonesia. Lihat saja, bangsa kita sedang terpuruk dari berbagai faktor, kalau ditambah dengan karakter seperti itu memang cepat diterima di pemirsa, tapi sayangnya tidak membangun ke masa depan. Mestinya banyak dihadirkan karakter kreatif, inovatif, ceria, suka bekerja, bersahabat, percaya diri, memenangkan persaingan global. Sepertinya sinetron kita setingnya kebanyakan jago kandang, alias hanya untuk memenangkan persaingan satu kelompok saja, sempit banget tujuan menyelesaikan masalahnya ya?

· Pola penyelesaian masalah.

Ini tampak kurang logis pada cerita-cerita persilatan atau semi kolosal. Misal saja, ketika bertemu dengan orang di hutan, langsung ditanya “Kamu mau apa?” jawab “Mau lewat”, dilanjutkan “Tidak boleh”, lalu berkelahi atau perang. Wah, itu rebutan apa. Sepertinya kok tidak masuk dalam alur cerita pokok, kayak ditambah-tambahkan saja, yang penting berkelahi. Sudah bangsa Indonesia parah sukanya menyalahkan orang dan berkelahi tanpa alasan yang jelas, ditambah dengan cerita yang berpola begitu, sepertinya sudah sah deh.

Atau kalau dalam cerita yang drama dan romantika, begitu punya masalah dengan seseorang, biasanya tokok trus membisikan rencana ke temannya. Nah hasilnya biasanya hanyalah menjaili temannya yang jadi tidak disukai tadi. Hal ini tidak menimbulkan pengertian pada persaingan yang sehat yang bisa memacu kepada cita-cita yang lebih tinggi, yaitu masa depan yang lebih baik.

· Bahasa dalam cerita

Saya menilai bahasanya terlalu bertele-tele. Seperti mau menjelaskan secara detail cerita dengan diucapkan. Kita melihat tayangan secara visual, bukan sedang membaca novel, mestinya gerakan isyarat, gerakan mimik, bibir, kepala, tangan dan sebagainya bisa jadi suatu bahasa tersendiri. Lebih tepatnya bisa dikatakan kita juga bisa memakai ‘body language’. Tidak semua harus dikatakan, bukankah kalau melihat gerakan tubuh, pemirsa juga bisa tahu apa dia marah, sedih, atau senang. Kalau semua diceritakan, ditinggal tiduran dan merem kita juga tahu tokohnya sedang apa. Misalkan saja, orang lagi melihat teman ceweknya bermesraan dengan temannya, si tokoh kemudian diperlihatkan wajahnya yang kerut-kerut, kemudian diberi back sound “saya marah sekali pada pacar saya, dia melecehkan saya, saya marah, awas kamu, akan aku balas”. Biasanya dibarengi dengan tangan memukul-mukul ke tangan satunya lagi. Atau cerita lain, ketika di depan pintu rumah temannya, eh.. ia masih ngomong “saya harus mengetuk pintu itu, dia ada di dalam nggak ya? Apa dia mau menerima saya. Ah, gimana ya… (dan seterusnya….).”

Sepertinya banyak bahasa yang bertele-tele ini digunakan untuk memperpanjang jam tayang. Isinya sedikit, tapi lama tayangnya bisa panjang. Kalau dibandingkan dengan film barat, mungkin kalau kita memakan waktu seperempat jam untuk satu setting, di sana hanya ditampilkan dalam jangka sepuluh detik untuk cerita yang sama dan makna yang sama bahkan bisa saja lebih banyak makna ceritanya yang sepuluh detik dibandingkan dengan yang seperempat jam.

· Ide Cerita

Ide cerita banyak yang menjiplak dari negara tetangga. Bahkan sampai sinetron yang mempunyai rating tinggi. Sungguh disayangkan, mestinya kita bisa berbangga, tapi ya sementara ini dibatalkan dulu rasa bangga tersebut. Karena itu bukan hasil murni anak negeri.

Cerita dongen yang dikisahkan kembali. Menggarap itu sih boleh saja. Tapi kalau settingnya dikacaukan, atau dibiaskan, wah itu menjadi tidak nikmat lagi. Contohnya cerita di negeri atas awan dalam kisah jaman kerajaan dongeng, dikisahkan ulang dengan raja yang berjas dan bermobil. Atau kisah Siti Nurbaya yang diseting di rumahan modern. Menurut saya itu hal yang tidak mendidik, apalagi bagi anak-anak. Karena dibelokkan dari setting history atas cerita itu sebenarnya. Apalagi cerita itu sudah masuk karya sastra yang bersejarah. Jangan ndompleng cerita untuk rating asal laku deh. Sayang sekali, kalau kebudayaan yang mahal kita diacak-acak dengan setting yang palsu.

Kita tidak pernah menggarap sesuatu ide cerita yang profesional. Misalnya kalau kita membuat cerita tentang perusahaan, biasanya perusahaan tersebut hanya tinggal latar belakangnya saja, sementara apa yang perlu diketahui masyarakat tentang perusahaan tidak dipaparkan.

Kita tidak pernah mengungkap bagaimana kegiatan menanggulangi korupsi misalnya. Sinetron tentang pemilu presiden misalnya, atau sinetron tentang kiprah kita di PBB. Pertandingan olah Raga di ASEAN misalnya. Pengolahan laut dan kekayaan bisa juga menjadi setingg cerita yang menarik. Dan masih banyak lagi yang semestinya bisa positif bila diungkap. Daripada bercerita tentang anak SMA yang ugal-ugalan, pemalas, suka bolos. Kalau cerita tentang anak SMA itu dibuat untuk menuju kepada olimpiade internasional, itu sih baru hebat. Nah ini adalah tantangan buat para Sineas Indonesia, kalau ingin membangun dunia sineas juga pola kecintaan masyarakat terhadap bangsanya.

Harapan atas dunia sinetron

Selain menyampaikan kritik, saya juga menyampaikan harapan. Karena kritik sebenarnya juga menyiratkan sebuah harapan yang lebih baik. Karena sinetron ini ternyata sudah masuk dalam kehidupan harian masyarakat. Maka sebaiknya perlu dibuat sinetron yang membangun pola-pola pikir masyarakat yang lebih dewasa. Lebih mau berusaha, percaya diri dan bisa bersaing ke tingkat nasional maupun internasional. Jadi sinetron sebaiknya diberi isian yang bersifat kreatif, inovatif, percaya diri, persaingan yang positif sampai ke tingkat internasional jika perlu, dan semangat untuk memperbaiki keadaan nasional kita pada segi-segi yang sedang terpuruk.

Semoga para pembuat sinetron tertantang untuk membuat ide-ide baru seperti yang telah diungkapkan di atas. Sehingga dunia sinetron dan perfilman kita pada umumnya lebih maju, bahkan bisa membawa citra bangsa Indonesia harus di negeri sendiri maupun di dunia internasional.

“Viva Perfilman Indonesia”

Penulis: Agus Mujilan

14 Desember 2007

Penggemar dan pengamat film

Link lain yang memuat kritik sinetron:

http://clea.kunci.or.id

Novel The Open Eyes

 

Novel berjudul ‘The Open Eyes’ yang saya tulis tahun 2005 ini saya persembahkan untuk semua teman-teman, dan juga bagi siapa saja yang mau untuk membacanya. Semoga bisa menambah senyum di hati Anda.

**************

 

Biarkan semua mengalir,
biarkan hati yang bimbang bisa memilih.
Kehidupan ini tentu memiliki ceritanya bagi kita.
Cinta, karier, dan pilihan terus mewarnai sepanjang perjalanannya.
Kadang timbul suka, kadang membuat lara dan kecewa yang berkepanjangan.
Lara itu ingin membutakan kita pada banyak kenyataan, ……seperti mata yang tertutup.

Namaku Aryo. Aku bekerja sebagai Accounting di Melliba Fox, sebuah perusahaan Supermarket. Aku pindah ke Jakarta karena ingin mendapat karier lebih bagus, juga meninggalkan kenangan cinta. Saat itu aku bertemu dengan Sita yang berusaha menjadi teman di hatiku, selain juga Friska yang maksudnya kurang jelas menurutku. Ketika aku sudah mulai akan membalas salah satunya, ternyata aku bertemu kembali dengan Anjar pada pertemuan di Bogor. Aku kembali menaruh hatiku padanya. Namun sebuah berita tentang Anjar datang padaku, berita itu menghadapkanku pada sebuah pilihan. Dihadapkan pula pada masalah perusahaan yang sedang menghadapi suatu kasus.

****

Untuk membaca seluruh isi novel ini, silahkan click link ini http://agus.byethost13.com/novel/openeyes

Selamat membaca, dan silahkan kasih masukan dan saran. Terima kasih banyak.

Hello world!

Selamat datang di blogku. Marilah kita saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kalau mau kontak, aku ada di: agus_muji@yahoo.com

Situs pribadi saya yang lain:  http://agus.byethost13.com